Yen Melemah terhadap Dolar, Apakah Liburan ke Jepang Jadi Lebih Murah?
28 Mar 2026 • 10 min read
Annisa Roffina
Diketahui, melemahnya Yen Jepang terhadap Dolar AS tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi global—terutama konflik di Timur Tengah yang masih memanas.
Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat Dolar AS semakin kuat, sementara Yen justru tertekan hingga mendekati angka sekitar 159/dolar (per 27 Maret 2026).
Bagi wisatawan, kondisi ini secara umum berarti biaya liburan ke Jepang bisa terasa lebih murah. Dengan Yen yang melemah, nilai tukar menjadi lebih menguntungkan sehingga pengeluaran untuk makan, transportasi, hingga belanja bisa lebih hemat.
Namun apakah melemahnya Yen benar-benar membuat biaya liburan ke Jepang jadi lebih murah?
Yen Melemah, Apa Artinya untuk Wisatawan?

Pelemahan nilai Yen Jepang pada dasarnya bisa menjadi kabar baik bagi wisatawan asing, termasuk dari Indonesia.
Dengan kurs Yen yang lebih rendah terhadap Dolar AS, biaya pengeluaran selama di Jepang—mulai dari makan, transportasi, hingga belanja—terasa lebih terjangkau dibandingkan saat Yen berada di posisi kuat.
Namun, kondisi ini tidak otomatis membuat liburan ke Jepang pasti lebih hemat.
Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas Jepang sebagai destinasi wisata terus meningkat, sehingga jumlah wisatawan pun melonjak. Dampaknya, harga di sektor pariwisata seperti hotel, tiket atraksi, hingga transportasi tertentu ikut mengalami kenaikan.
Selain itu, pemerintah Jepang juga mulai menerapkan atau menaikkan beberapa biaya tambahan, seperti pajak turis dan kebijakan lainnya, sebagai upaya mengatasi overtourism. Hal ini tentu bisa menambah total pengeluaran selama perjalanan.
Jadi, meskipun Yen yang melemah membuka peluang liburan yang lebih terjangkau, wisatawan tetap perlu mempertimbangkan faktor lainnya juga.
Jadi, Apakah Liburan ke Jepang Benar-Benar Lebih Murah?

Jawabannya: bisa lebih murah, tapi tidak selalu.
Pelemahan Yen Jepang memang membuat nilai tukar jadi lebih menguntungkan, sehingga pengeluaran sehari-hari seperti makan, transportasi, dan belanja di Jepang terasa lebih ringan dibandingkan saat Yen kuat.
Namun, ada beberapa faktor lain yang membuat biaya liburan tidak otomatis jadi lebih hemat. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah wisatawan yang mendorong kenaikan harga hotel dan atraksi populer, terutama saat high hingga peak season.
Di sisi lain, wisatawan Indonesia juga perlu memperhatikan pergerakan Rupiah Indonesia terhadap Dolar AS.
Jika Rupiah ikut melemah, maka keuntungan dari Yen yang melemah bisa berkurang atau bahkan tidak terasa. Pasalnya, nilai tukar yang digunakan saat menukar uang tetap dipengaruhi oleh kekuatan Rupiah di pasar global.
Artinya, meskipun secara kurs Jepang terlihat lebih “murah,” realita di lapangan bisa berbeda tergantung kondisi ekonomi global dan nilai tukar Rupiah.