Shuri Castle Bangkit Kembali, Mengenal Sejarah dan Restorasinya Setelah Kebakaran

Transportation

28 Mar 2026 • 10 min read

A

Annisa Roffina

Pada dini hari 31 Oktober 2019, kebakaran hebat melanda bangunan utama Shuri Castle, kastil bersejarah yang selama berabad-abad menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Ryukyu di Okinawa.

Setelah lebih dari lima tahun melalui proses restorasi yang teliti, Shuri Castle kini perlahan kembali membuka pintunya dan siap menyambut pengunjung.

Tentang Shuri Castle di Okinawa

Shuri Castle adalah kastil bersejarah yang terletak di atas bukit setinggi sekitar 120 meter di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa. Dibangun pada abad ke-14, kastil ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Ryukyu selama lebih dari 450 tahun.

Sebagai kerajaan maritim yang aktif berdagang dengan Tiongkok, Jepang, Korea, dan berbagai wilayah di Asia Tenggara, Kerajaan Ryukyu meninggalkan jejak budaya yang tercermin pada arsitektur Shuri Castle.

Bangunan kastil memadukan pengaruh arsitektur Tiongkok dengan gaya khas Ryukyu, sehingga tampil berbeda dari kebanyakan kastil di Jepang.

Ciri yang paling mencolok adalah dominasi warna merah-oranye yang menghiasi hampir seluruh kompleks kastil.

Kebakaran Shuri Castle: Apa yang Terjadi?

Pada 31 Oktober 2019 dini hari, kebakaran hebat melanda Seiden, aula utama sekaligus bangunan paling ikonik di Shuri Castle. Api dengan cepat menyebar ke bangunan lain dan baru berhasil dipadamkan sekitar 10 jam kemudian.

Akibatnya, delapan bangunan utama, termasuk Seiden, Hokuden (Aula Utara), dan Nanden (Aula Selatan), hangus terbakar.

Hasil investigasi menyebutkan bahwa kebakaran dipicu oleh korsleting listrik dari peralatan yang digunakan untuk persiapan sebuah acara.

Selain menghancurkan bangunan bersejarah, kebakaran ini juga mengakibatkan hilangnya banyak artefak berharga Kerajaan Ryukyu, menjadikannya salah satu kehilangan warisan budaya terbesar dalam sejarah Okinawa.

Proses Restorasi Shuri Castle

Perdana Menteri Jepang saat itu, Shinzo Abe, mengumumkan komitmen pemerintah untuk merestorasi Shuri Castle secara penuh hanya sehari setelah kebakaran.

Pemerintah Okinawa dan pemerintah pusat Jepang bergerak cepat membentuk badan restorasi.

Tahapan Restorasi

Periode

Keterangan

Fase 1 — Dokumentasi & Pembersihan

2020

Dokumentasi menyeluruh puing-puing, pengumpulan artefak yang tersisa, dan pembersihan area

Fase 2 — Konstruksi Hokuden & Nanden

2020–2022

Aula Utara dan Selatan direstorasi terlebih dahulu, dibuka untuk umum sebagian

Fase 3 — Konstruksi Seiden (Aula Utama)

2022–2026

Proses paling panjang dan kompleks — menggunakan kayu pilihan dan teknik konstruksi tradisional Ryukyu

Pembukaan penuh Seiden

2026 (target)

Bertepatan dengan peringatan 30 tahun restorasi pertama Shuri Castle (1992–2022)

Yang menarik dari proses restorasi Shuri Castle adalah upayanya untuk mengembalikan bentuk aslinya semirip mungkin, bukan sekadar membangun ulang dengan teknologi modern.

Material seperti kayu dipilih secara khusus agar menyerupai bahan yang digunakan pada bangunan asli, sementara para pengrajin dan ahli konstruksi tradisional dilibatkan untuk memastikan setiap detail tetap sesuai dengan arsitektur Kerajaan Ryukyu.

Shuri Castle Akan Segera Dibuka Kembali, Apa yang Berubah?

Selama proses restorasi, Shuri Castle tetap membuka sebagian area bagi pengunjung, termasuk Shureimon Gate, taman, dan area pameran yang menampilkan proses pembangunan kembali kastil.

Setelah hampir tujuh tahun direstorasi pasca kebakaran 2019, Seiden, bangunan utama Shuri Castle, dijadwalkan kembali dibuka untuk umum pada 23 November 2026.

Bersamaan dengan itu, pengunjung juga dapat menikmati berbagai pembaruan, seperti:

  • Area pameran yang lebih interaktif
  • Sistem informasi multibahasa
  • Fasilitas yang lebih ramah bagi lansia dan pengguna kursi roda

Pembukaan kembali Seiden menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan Kerajaan Ryukyu.

Pengunjung tidak hanya dapat melihat ikon utama Shuri Castle yang telah dipugar, tetapi juga memahami sejarah dan semangat masyarakat Okinawa dalam menjaga warisan budayanya.