Panduan untuk Traveler: Etika Menggunakan Charger di Jepang

Saat berlibur ke Jepang, banyak hal kecil yang perlu diperhatikan agar perjalanan berjalan lancarβ€”termasuk soal menggunakan charger di tempat umum.

Meski terlihat sepele, Jepang dikenal dengan budaya sopan santunnya yang tinggi, dan hal seperti menggunakan charger di kafe, stasiun, atau ruang publik pun memiliki etikanya sendiri.

Di sini, kamu akan mendapat panduan lengkap tentang cara menggunakan charger dengan benar di Jepang, mulai dari tempat yang boleh digunakan hingga sikap yang sebaiknya dijaga agar tetap menghormati aturan dan budaya setempat.

Pengetahuan Umum Tentang Charger di Jepang

Seperti banyak negara lainnya, Jepang memiliki jenis colokan khas yang umum digunakan. Negara ini memakai colokan tipe A dengan dua bilah datar sejajar, mirip dengan yang digunakan di Amerika Serikat.

Meskipun begitu, di beberapa tempat, kamu juga bisa menemukan colokan tipe B yang memiliki satu pin tambahan di bawahnya sebagai grounding.

Jika kamu berasal dari negara dengan tipe colokan berbeda, seperti tipe C atau tipe F yang banyak digunakan di Indonesia, maka travel adapter akan sangat dibutuhkan agar perangkat bisa tersambung ke colokan di Jepang.

Alat kecil tersebut berfungsi untuk menyesuaikan bentuk colokan perangkat elektronikmu agar bisa digunakan pada stopkontak di Jepang.Β 

Selain bentuk colokan, hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah tegangan listrik (voltase). Voltase menunjukkan kekuatan arus listrik yang mengalir ke perangkat elektronik. Di Jepang, voltase listrik hanya sekitar 100 volt, sedangkan di Indonesia sekitar 220 volt.Β 

Perbedaan ini berarti daya listrik di Jepang lebih rendah, sehingga beberapa perangkat mungkin tidak bisa bekerja dengan optimal.

Frekuensi listrik di Jepang juga berbeda-beda tergantung wilayah; 50 Hz di bagian timur seperti Tokyo, Hokkaido, dan Yokohama, serta 60 Hz di bagian barat seperti Osaka, Kyoto, dan Hiroshima.

Karena itu, meskipun colokan perangkatmu cocok, belum tentu perangkatnya berfungsi baik jika tidak mendukung tegangan dan frekuensi tersebut.

Amannya, pastikan charger atau adaptor perangkatmu memiliki tulisan β€œ100–240 V.” Artinya, perangkat bisa digunakan di Jepang tanpa masalah.

Namun, jika perangkatmu hanya mendukung 220–240 V, sebaiknya gunakan voltage converterβ€”alat yang berfungsi menyesuaikan daya listrik agar sesuai dengan kebutuhan perangkatmu.

Jangan Sembarangan Menggunakan Fasilitas Umum

Berbeda dengan di Indonesia, di Jepang kamu tidak bisa sembarangan menggunakan colokan listrik di tempat umum. Meski colokan tersedia di bandara, stasiun, cafe, atau hotel, penggunaannya sering kali dibatasi.

Di cafe atau restoran misalnya, beberapa tempat memang menyediakan colokan di meja, tapi tetap harus meminta izin kepada staf terlebih dahulu sebelum menggunakannya.

Di beberapa tempat, ada yang memungut biaya untuk penggunaan colokan listrik, sementara yang lain menyediakan alternatif seperti powerbank. Namun, banyak juga tempat yang memperbolehkan penggunaan colokan secara gratis. Jika tempat tersebut tidak mengizinkan, sebaiknya hormati aturan dan jangan menggunakannya.

Kalau kamu menggunakan colokan tanpa izin, memang tidak sampai melanggar hukum, tapi di Jepang hal itu bisa dianggap tidak sopan atau bahkan dianggap sebagai tindakan β€œpencurian listrik.”

Sebaiknya kamu mengisi daya hanya di area yang memang disediakan, seperti charging spot yang biasanya tersedia di pusat perbelanjaan, bandara, atau stasiun. Dengan begitu, kamu bisa mencharger perangkat dengan aman tanpa melanggar aturan.

Alternatifnya, kamu bisa menemukan tempat penyewaan powerbank seperti ChargeSPOT yang tersebar di minimarket, cafe, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Cara penggunaannya juga mirip dengan di Indonesia, yakni melalui aplikasi resminya.

Perhatikan Batas Waktunya

Saat mengisi daya di Jepang, usahakan untuk tidak menggunakan colokan terlalu lama, terutama di tempat umum seperti kafe, bandara, atau area kerja bersama.

Colokan di tempat-tempat tersebut biasanya disediakan untuk pemakaian sementara, bukan untuk mengisi baterai hingga penuh sambil menempati tempat berjam-jam.

Beberapa charging spot bahkan menerapkan batas waktu atau tarif tertentu, misalnya seperti yang tertera di gambar, sekitar Β₯100 untuk 30 menit pemakaian. Aturan ini dibuat agar semua orang bisa bergiliran menggunakan fasilitas dengan adil.

Mengisi daya perangkat di Jepang memang terlihat sepele, tapi sebenarnya mencerminkan seberapa baik kita memahami dan menghormati budaya setempat. Jadi, isi daya perangkatmu dengan bijak, dan nikmati perjalananmu di Jepang tanpa khawatir melanggar etika!