Mengenal Kucing Maneki Neko, Si Pembawa Keberuntungan dari Jepang

Image Banner

Di berbagai sudut toko, restoran, hingga rumah-rumah bergaya Jepang, sering terlihat sebuah patung kucing kecil dengan satu kaki terangkat seolah sedang melambaikan tangan. Kucing tersebut dikenal sebagai Maneki Nekoβ€”figur yang sejak lama dipercaya membawa keberuntungan.

Di balik tampilannya yang lucu, tersimpan sejarah dan makna budaya yang menarik untuk dikenal lebih dekat dari Maneki Neko tersebut.

Apa Itu Kucing Maneki Neko?

Seperti yang sudah disebutkan sekilas di atas, Maneki Neko secara harfiah berarti β€œkucing yang mengundang” atau β€œkucing pemanggil.”

Istilah Maneki Neko berasal dari kata maneku yang berarti β€œmengundang” atau β€œmemanggil,” dan kata neko yang berarti β€œkucing.” Patung ini biasanya digambarkan sebagai kucing dengan satu kaki depan terangkat, seolah-olah sedang melambai.

Dalam budaya Jepang, gerakan tersebut bukan berarti β€œselamat tinggal,” melainkan isyarat untuk memanggil seseorang agar mendekat.

Makna Posisi Kaki Pada Maneki Neko

Posisi kaki yang terangkat pada kucing Maneki Neko umumnya memiliki makna berbeda:Β 

  • Kaki kiri terangkat: dipercaya dapat menarik pelanggan (umum di toko dan restoran).
  • Kaki kanan terangkat: melambangkan datangnya uang atau keberuntungan finansial.
  • Kedua kaki terangkat: perlindungan menyeluruh atau keberuntungan ganda (meski kurang umum).

Semakin tinggi kaki terangkat, dipercaya semakin jauh keberuntungan yang dapat β€œdipanggil.”

Makna Warna Pada Maneki Neko

Awalnya, Maneki Neko kebanyakan berwarna putih. Namun seiring waktu, terutama karena pengaruh feng shui, muncul berbagai variasi warna yang masing-masing memiliki makna tersendiri.

  • Putih: keberuntungan dan kemurnian.
  • Emas: kekayaan dan kemakmuran finansial.
  • Hitam: perlindungan dari roh jahat atau nasib buruk.
  • Merah: kesehatan dan perlindungan dari penyakit.
  • Pink: keberuntungan dalam percintaan.
  • Hijau: kesuksesan dalam pendidikan atau studi.

Aksesoris Tambahan Pada Maneki Neko

Maneki Neko tradisional sering digambarkan mengenakan berbagai aksesori khas yang bukan sekadar hiasan, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai berikut:

  • Kalung merah dengan lonceng: gaya khas kucing peliharaan bangsawan pada zaman Edo.
  • Koban (koin emas berbentuk oval dari Jepang kuno): biasanya bertuliskan β€œεƒδΈ‡δΈ‘β€ (sen man ryo) yang melambangkan kekayaan besar.
  • Celemek atau hiasan leher: menyerupai patung penjaga kuil dalam tradisi Jepang.

Sejarah dan Asal-Usul Kucing Maneki Neko

Banyak orang percaya bahwa Maneki Neko berasal dari Tokyo (yang dulu bernama Edo), meskipun ada juga yang menyebut Kyoto sebagai tempat asalnya.

Salah satu teori yang paling populer menyatakan bahwa patung Maneki Neko berasal dari kerajinan keramik Imado (Imado ware) yang dijual di daerah Asakusa pada zaman Edo (1603–1868).

Selain catatan sejarah, ada banyak cerita rakyat Jepang yang menjelaskan asal-usul Maneki Neko, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Legenda Ii Naotaka (Kuil Gōtoku-ji)

Ini adalah cerita yang paling terkenal. Dikisahkan pada zaman dahulu, seorang samurai sedang berteduh di bawah pohon saat hujan turun sangat deras. Saat itu, ia melihat seekor kucing di depan sebuah kuil yang mengangkat kakinya, seolah memberi isyarat agar ia mendekat ke arah kuil tersebut.

Merasa penasaran, sang samurai pun berjalan menghampiri kucing tersebut. Tak lama setelah ia meninggalkan tempatnya semula, petir menyambar pohon tempat ia tadi berteduh. Ia pun selamat dari bahaya.

Karena merasa hidupnya telah terselamatkan, samurai itu kemudian menjadi dermawan bagi Kuil Gōtoku-ji tempat kucing tersebut berada.

2. Legenda Ōta Dōkan (Kuil Jishōin)

Cerita lain berkaitan dengan panglima perang Ōta Dōkan pada zaman Muromachi.

Saat bertempur melawan klan Toshima, ia tersesat dan pasukannya terdesak. Tiba-tiba seekor kucing muncul dan seolah mengajaknya masuk ke Kuil Jishōin. Di sana ia berhasil menyusun strategi baru dan akhirnya memenangkan pertempuran.

Karena merasa berhutang budi, ia menyumbangkan patung kucing ke kuil tersebut, yang kemudian diyakini sebagai asal mula Maneki Neko.

3. Legenda Wanita Tua di Imado (Kuil Imado)

Ada pula kisah tentang seorang wanita tua miskin yang tinggal dekat Kuil Imado. Karena sangat miskin, ia terpaksa membuang kucing peliharaannya. Suatu malam, kucing itu muncul dalam mimpinya dan menyuruhnya membuat patung kucing agar mendapat keberuntungan.

Wanita itu kemudian membuat hiasan kucing dari keramik Imado dan menjualnya di Asakusa. Ternyata patung tersebut sangat laku dan membuatnya menjadi kaya.

Mengapa Kucing Maneki Neko Sering Disangka Berasal dari Tiongkok?

Maneki Neko umumnya lebih banyak digunakan oleh etnis Tionghoa karena maknanya yang selaras dengan nilai keberuntungan dan kemakmuran dalam budaya bisnis Tionghoa.

Karena popularitasnya di komunitas Tionghoa tersebut, Maneki Neko sering disalahartikan sebagai simbol yang berasal dari Tiongkok. Akibatnya, patung ini kadang disebut sebagai β€œkucing keberuntungan China” atau jΔ«nmāo yang berarti β€œkucing emas.”

Mengapa bisa demikian?

  • Sering Ditemukan di Restoran Tiongkok

Di berbagai negara, Maneki Neko lebih sering terlihat di restoran atau toko milik etnis Tionghoa. Karena kemunculannya identik dengan tempat usaha tersebut, banyak orang mengira simbol ini berasal dari budaya Tiongkok.

  • Identik dengan Warna Merah dan Emas

Banyak Maneki Neko, khususnya yang di luar Jepang, berwarna merah dan emasβ€”warna yang juga identik dengan simbol keberuntungan dalam budaya Tiongkok. Karena itu, orang sering mengira Maneki Neko berasal dari Tiongkok.

  • Menggunakan Karakter Kanji

Maneki Neko sering memegang koin Koban bertuliskan kanji yang bentuknya mirip aksara Mandarin. Karena keduanya sama-sama menggunakan karakter turunan Tionghoa, tidak sedikit orang yang mengira simbol ini berasal dari Tiongkok.

Pada akhirnya, Maneki Neko bukan sekadar hiasan berbentuk kucing yang melambai, melainkan simbol yang kaya akan sejarah, legenda, dan makna budaya.

Memahami asal-usulnya membantu kita melihat Maneki Neko bukan hanya sebagai β€œkucing keberuntungan,” tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya Jepang yang terus hidup dan dikenal di seluruh dunia.