Ibu Kota Jepang: Benarkah Tokyo Akan Digantikan? Ini Faktanya

Transportation

28 Mar 2026 • 10 min read

A

Annisa Roffina

Selama lebih dari 150 tahun, Tokyo menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan kehidupan di Jepang. Namun, belakangan muncul kembali wacana tentang perlunya ibu kota kedua sebagai langkah antisipasi jika terjadi bencana besar di Tokyo.

Lalu, benarkah Tokyo akan digantikan sebagai ibu kota Jepang?

Benarkah Tokyo Akan Digantikan sebagai Ibu Kota Jepang?

Tidak. Hingga saat ini, Tokyo tetap menjadi ibu kota Jepang.

Yang sedang dipersiapkan bukanlah pengganti Tokyo, melainkan konsep ibu kota kedua, yaitu kota cadangan yang dapat mengambil alih sebagian fungsi pemerintahan jika Tokyo terdampak bencana besar.

Pada akhir Juli 2026, Parlemen Jepang mengesahkan rancangan undang-undang terkait pembentukan “ibu kota kedua.”

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan nasional setelah puluhan tahun pembahasan, khususnya yang didorong oleh Pemerintah Osaka dan kawasan Kansai.

Singkatnya, Jepang tidak memindahkan ibu kotanya, tetapi sedang menyiapkan pusat pemerintahan cadangan untuk menghadapi situasi darurat.

Mengapa Muncul Wacana Ibu Kota Kedua di Jepang?

Ada dua alasan utama mengapa wacana pemindahan pusat pemerintahan atau penyiapan ibu kota cadangan di Jepang mulai dibahas.

1. Risiko Gempa Besar di Tokyo

Tokyo berada di wilayah yang aktif secara seismik karena dipengaruhi oleh pertemuan beberapa lempeng tektonik. Para ahli memperkirakan terdapat peluang terjadinya gempa besar di kawasan Tokyo dalam beberapa dekade mendatang.

Jika bencana tersebut terjadi, aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan berbagai layanan penting berpotensi terganggu secara bersamaan.

2. Konsentrasi Fungsi Negara di Tokyo

Tokyo bukan hanya ibu kota Jepang, tetapi juga pusat pemerintahan, bisnis, dan keuangan.

Lebih dari 30% penduduk Jepang tinggal di kawasan metropolitan Tokyo, sementara sebagian besar kementerian, kantor pusat perusahaan besar, dan infrastruktur penting juga berada di kota ini.

Kondisi ini membuat Jepang perlu menyiapkan rencana cadangan apabila terjadi bencana besar.

Sejarah Ibu Kota Jepang Sebelum Tokyo

Menariknya, wacana "ibu kota selain Tokyo" bukan hal baru dalam sejarah Jepang. Sepanjang sejarah, Jepang sudah berganti ibu kota beberapa kali:

Ibu Kota

Periode

Nama Kuno

Keterangan

Nara

710–784 M

Heijo-kyo (平城京)

Ibu kota pertama yang permanen; era kejayaan seni dan agama Buddha; Todai-ji dibangun pada era ini

Nagaoka

784–794 M

Nagaoka-kyo (長岡京)

Ibu kota sementara selama 10 tahun sebelum dipindah ke Kyoto

Kyoto

794–1869 M

Heian-kyo (平安京)

Ibu kota terlama dalam sejarah Jepang — lebih dari 1.000 tahun; tempat tinggal kaisar hingga era Meiji

Tokyo

1869 M–sekarang

Edo (江戸) sebelumnya

Edo berganti nama menjadi Tokyo ("Ibu Kota Timur") saat Kaisar Meiji pindah ke sana pada 1869

Salah satu fakta menarik tentang ibu kota Jepang adalah Tokyo tidak pernah ditetapkan secara resmi sebagai ibu kota dalam konstitusi Jepang.

Status Tokyo sebagai ibu kota terbentuk melalui praktik pemerintahan sejak tahun 1869, bukan melalui undang-undang yang secara tegas menyebutkannya.

Karena itu, pembahasan mengenai ibu kota kedua atau pusat pemerintahan cadangan dinilai lebih memungkinkan secara hukum dibandingkan di beberapa negara lain.

Meski wacana mengenai "ibu kota kedua" masih dalam tahap pembahasan dan belum ada keputusan resmi, beberapa kota yang paling sering disebut sebagai kandidat adalah Osaka, Fukuoka, Nagoya, dan Sapporo.