Dual Pricing Harga Tiket Jepang: Kenapa Turis Harus Bayar Lebih?
28 Mar 2026 • 10 min read
Annisa Roffina
Sepanjang 2025, Jepang kedatangan lebih dari 42 juta wisatawan asing—rekor baru yang memecahkan angka tahun-tahun sebelumnya. Lonjakan ini membawa berkah sekaligus masalah.
Antrian mengular di depan kuil, sampah berserakan di gang-gang sempit Kyoto, hingga warga lokal yang kesulitan menaiki bus karena penuh turis; overtourism bukan lagi sekadar isu, melainkan bagian dari keseharian.
Salah satu solusi yang kini mulai diterapkan secara luas adalah dual pricing—kebijakan di mana turis dikenakan harga tiket masuk yang lebih tinggi dibandingkan warga lokal setempat.
Mengenai Sistem Dual Pricing di Jepang

Sederhananya, dual pricing adalah sistem penetapan harga di mana dua kelompok pengunjung membayar tarif yang berbeda untuk mengakses tempat yang sama.
Pada periode 2024–2025 lalu, muncul sejumlah kabar bahwa beberapa tempat wisata di Jepang mulai mempertimbangkan harga tiket yang sedikit lebih tinggi bagi wisatawan mancanegara dibandingkan penduduk lokal.
Meski demikian, sistem dual pricing belum diterapkan secara luas di Jepang. Penerapannya masih terbatas pada beberapa tempat atau layanan tertentu saja, sehingga sebagian besar objek wisata di Jepang tetap memberlakukan harga tiket yang sama bagi semua pengunjung.
Destinasi di Jepang yang Menerapkan Dual Pricing untuk Turis
Walaupun belum diterapkan secara luas di seluruh Jepang, beberapa tempat wisata dan fasilitas rekreasi berikut sudah mulai menggunakan sistem harga berbeda bagi turis.
Niseko Ski Resort (Hokkaido)

Untuk mengelola lonjakan jumlah pengunjung, beberapa resor ski di kawasan ini mulai menerapkan sistem harga berbeda.
Sebagai contoh, tiket ski harian dapat dikenakan harga sekitar ¥6.500 untuk wisatawan asing, sedangkan penduduk lokal membayar sekitar ¥5.000.
Junglia Okinawa (Okinawa)

Sebuah taman hiburan terbaru di Okinawa ini menerapkan sistem harga tiket yang berbeda tergantung dari mana pengunjung membelinya.
Wisatawan yang memesan lewat website berbahasa Inggris dikenakan harga sekitar ¥8.800, sementara pengunjung yang mengakses website berbahasa Jepang hanya perlu membayar sekitar ¥6.930 untuk tiket yang sama.
Himeji Castle (Hyogo)

Pemerintah Kota Himeji di Prefektur Hyogo awalnya berencana menaikkan harga tiket masuk khusus untuk wisatawan asing sebagai sumber dana pemeliharaan Himeji Castle—situs Warisan Dunia UNESCO.
Namun rencana tersebut menuai kritik, sehingga kebijakan akhirnya direvisi; perbedaan harga tidak lagi berdasarkan kewarganegaraan, melainkan antara warga lokal Himeji dan pengunjung dari luar kota.
Kini, harga tiket untuk warga Himeji adalah sebesar ¥1.000 sementara untuk turis non-warga adalah sebesar ¥2.000.
Chidorigafuji (Tokyo)

Chiyoda Ward di Tokyo kini menerapkan sistem harga berbeda untuk penyewaan perahu di Chidorigafuchi—salah satu spot terbaik menikmati bunga sakura di ibu kota.
Mulai 1 Maret, warga luar Chiyoda dikenakan biaya ¥1.500 per 30 menit selama musim sakura (Maret–April), hampir dua kali lipat dari harga ¥800 yang tetap berlaku untuk warga lokal. Di luar musim puncak, tarifnya ¥1.000 untuk non-warga dan ¥500 untuk warga setempat.
Selain berbagai tempat di atas, masih ada beberapa destinasi wisata lain di Jepang yang juga berencana menerapkan sistem dual pricing.
Salah satunya adalah Kokura Castle di Kitakyushu, yang dikabarkan akan mulai memberlakukan kebijakan tersebut pada bulan April mendatang.
Kenapa Jepang Menerapkan Harga Tiket Berbeda untuk Turis?
Salah satu alasan utama munculnya sistem harga tiket berbeda atau dual pricing adalah untuk membantu mengatasi masalah overtourism.
Tempat-tempat wisata populer sering kali harus menghadapi kepadatan pengunjung yang tinggi, sehingga membutuhkan biaya tambahan untuk menjaga fasilitas, mengatur arus pengunjung, serta memastikan pengalaman wisata tetap nyaman bagi semua orang.
Selain itu, banyak situs wisata di Jepang merupakan bangunan bersejarah yang memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit. Pemeliharaan bangunan bersejarah seperti kastil, kuil, dan taman tradisional memerlukan dana yang besar agar tetap terjaga kondisinya.
Melalui sistem dual pricing, pengelola destinasi berharap dapat memperoleh tambahan dana dari wisatawan yang datang dari luar daerah atau luar negeri.
Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung perawatan situs budaya, meningkatkan fasilitas wisata, serta menjaga keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang.