Apa Itu Obon Festival? Tradisi Musim Panas Jepang yang Sarat Makna Budaya
Saat musim panas tiba, Jepang tidak hanya dipenuhi festival kembang api dan matsuri yang meriah, tetapi juga tradisi budaya yang sarat makna bernama Obon Festival.
Perayaan ini menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Jepang, dengan suasana khas musim panas yang dipenuhi lentera, tarian tradisional, dan berbagai tradisi turun-temurun.Β
Asal-Usul dan Makna Obon Festival

Obon Festival, atau sering disebut Bon, adalah tradisi musim panas di Jepang yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Festival ini berasal dari perpaduan ajaran Buddha dan budaya Jepang yang menghormati arwah leluhur.
Dalam kepercayaan masyarakat Jepang, Obon menjadi waktu ketika roh keluarga yang telah meninggal dipercaya kembali mengunjungi keluarga mereka.
Nama Obon berasal dari kata Sanskerta Ullambana yang berkaitan dengan kisah seorang murid Buddha bernama Mokuren yang ingin mendoakan ibunya setelah meninggal. Dari kisah tersebut, lahirlah tradisi memberi penghormatan dan doa untuk leluhur yang kemudian berkembang menjadi Obon Festival di Jepang.
Selama Obon, masyarakat Jepang biasanya pulang kampung, membersihkan makam keluarga, menyalakan lentera, dan mengikuti tarian tradisional Bon Odori sebagai bagian dari perayaan.
Kapan Obon Festival Dirayakan di Jepang?

Secara umum, periode Obon berlangsung selama tiga hingga empat hari dan menjadi salah satu musim liburan paling sibuk di Jepang karena banyak orang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.
Di sebagian besar wilayah Jepang, Obon biasanya dirayakan pada tanggal 13β16 Agustus. Periode ini dikenal sebagai Hachigatsu Bon dan merupakan waktu Obon yang paling umum dirayakan di Jepang.
Sementara itu, beberapa wilayah seperti Tokyo dan area tertentu di wilayah Kanto merayakan Obon lebih awal, yaitu pada 13β16 Juli. Tradisi ini dikenal sebagai Shichigatsu Bon.
Di beberapa daerah Jepang seperti Okinawa dan wilayah pedesaan tertentu, Obon masih mengikuti kalender lunar sehingga tanggalnya berubah setiap tahun, biasanya berlangsung pada akhir Agustus hingga awal September. Tradisi ini disebut Kyureki Bon.
Tradisi yang Dilakukan Saat Obon Festival
Selama Obon Festival, masyarakat Jepang menjalankan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi bagian penting dari suasana musim panas di Jepang.
OhakamairiΒ

Ohakamairi adalah tradisi mengunjungi makam keluarga atau leluhur selama periode Obon.
Dalam tradisi ini, masyarakat Jepang biasanya membersihkan makam, menyalakan dupa, meletakkan bunga, dan berdoa sebagai bentuk penghormatan kepada arwah keluarga yang telah meninggal.
Mukaebi dan OkuribiΒ

Mukaebi adalah tradisi menyalakan api penyambutan untuk memandu arwah leluhur agar dapat kembali ke rumah saat Obon dimulai.
Setelah festival selesai, masyarakat Jepang melakukan Okuribi atau api perpisahan sebagai simbol mengantar arwah kembali ke alamnya.
Di beberapa daerah seperti Kyoto, tradisiΒ Okuribi dilakukan dalam skala besar dengan api unggun raksasa di pegunungan yang menjadi simbol khas musim Obon.
ShΕryΕ Uma

ShΕryΕ Uma adalah tradisi khas Obon di Jepang berupa hiasan dari mentimun dan terong yang diberi kaki dari tusuk bambu atau sumpit. Mentimun melambangkan kuda, sedangkan terong melambangkan sapi.
Dalam kepercayaan tradisional Jepang, kuda dipercaya membantu arwah leluhur datang lebih cepat saat Obon dimulai, sementara sapi melambangkan perjalanan kembali ke alam spiritual dengan perlahan sambil membawa persembahan dari keluarga mereka.
Bon OdoriΒ

Bon Odori merupakan tarian tradisional yang identik dengan Obon Festival. Tarian ini biasanya dilakukan bersama-sama di area kuil, taman, atau lapangan terbuka dengan iringan musik dan taiko.
Penari akan bergerak melingkar mengelilingi panggung yagura sebagai bentuk penyambutan sekaligus penghormatan kepada arwah leluhur.
Saat ini, Bon Odori juga menjadi bagian dari festival musim panas yang dapat dinikmati wisatawan di berbagai daerah Jepang.
Toro Nagashi

Toro Nagashi adalah tradisi menghanyutkan lentera kertas di sungai atau laut pada akhir periode Obon.
Lentera-lentera tersebut dipercaya menjadi simbol untuk mengantar arwah leluhur kembali ke alam spiritual.
Pemandangan ratusan lentera yang mengapung di malam hari menjadi salah satu momen paling ikonik dan menyentuh dalam Obon Festival di Jepang.Β
Obon Festival Paling Populer di Jepang
Dari Tokyo, Kyoto, hingga Tokushima, setiap daerah memiliki perayaan Obon dengan ciri khas dan kemeriahannya masing-masing.
Awa Odori (Tokushima)

Awa Odori merupakan Obon Festival paling terkenal di Jepang yang diadakan setiap tahun pada 12β15 Agustus di Kota Tokushima, Prefektur Tokushima.
Festival tari tradisional ini telah berlangsung selama lebih dari 400 tahun dan dikenal sebagai festival tari terbesar di Jepang dengan lebih dari 1 juta pengunjung setiap tahunnya.
Para penari yang tergabung dalam kelompok bernama ren menari di jalanan kota dengan iringan shamisen, taiko, flute, dan lonceng tradisional sambil mengenakan yukata serta topi khas anyaman.
Nishimonai Bon Odori (Akita)

Nishimonai Bon Odori adalah festival Obon tradisional yang berlangsung di Ugo, Prefektur Akita, dan dikenal sebagai salah satu dari tiga Bon Odori terbesar di Jepang (bersama Awa Odori di Tokushima dan GujΕ Odori di Gifu).
Festival ini memiliki suasana yang lebih mistis dan elegan dibanding festival Obon lainnya karena para penarinya mengenakan kimono klasik serta penutup wajah berupa topi anyaman atau kain hitam.
Nishimonai Bon Odori telah diwariskan sejak abad ke-13 dan ditetapkan sebagai Important Intangible Folk Cultural Property oleh pemerintah Jepang.
GujΕ Odori (Gifu)

GujΕ Odori adalah festival tari musim panas terkenal yang diadakan di Gujo Hachiman, Prefektur Gifu.
Festival ini berlangsung lebih dari 30 malam selama musim panas, menjadikannya salah satu festival terpanjang di Jepang. Puncak acaranya disebut Tetsuya Odori, yaitu tradisi menari semalaman penuh selama beberapa hari saat periode Obon.
Berbeda dari festival lain, GujΕ Odori terkenal karena semua orangβtermasuk wisatawanβboleh ikut menari bersama warga lokal di jalanan kota tua yang penuh nuansa tradisional Jepang.
Gozan no Okuribi (Kyoto)

Meski bukan festival Obon terbesar di Jepang, Gozan no Okuribi tetap menjadi salah satu tradisi Obon yang paling populer dan termasuk ke dalam perayaan besar di Kyoto.
Tradisi yang rutin digelar setiap 16 Agustus ini menampilkan lima api unggun raksasa di pegunungan sekitar Kyoto yang membentuk huruf kanji dan simbol tertentu, termasuk karakter βε€§β (Dai) yang artinya βbesar.β
Ritual ini dipercaya sebagai simbol untuk mengantarkan arwah leluhur kembali ke alam spiritual setelah perayaan Obon berlangsung.
Mulai dari tarian Bon Odori, lentera, hingga berbagai ritual tradisional seperti ShΕryΕ Uma dan Okuribi, setiap bagian dari Obon memiliki filosofi dan nilai budaya yang masih dijaga hingga sekarang.
Tidak heran jika festival ini menjadi salah satu momen paling istimewa untuk merasakan suasana musim panas Jepang yang hangat, tradisional, dan penuh kebersamaan.